"Ilmu Haq" dan "Ilmu Oplosan". Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarokatuh. Para mu'min dan murid yang dirahmati Allah SWT. Akhir-akhir ini kita sedang mengalami "badai kabut asap rohani" yang begitu pekat lebih pekat dari kabut asap di Sumatera dan Kalimantan, sehingga nafas hidup kita mulai tercemar oleh kondisi tersebut. Namun sebagian kecil ihsan yang menyadari adanya "badai" tersebut karena mereka senantiasa menjadi "Al Mufarriduun", senantiasa online langsung pada Allah SWT (OLLA) dan tetap istiqomah dengan ilmu haqNya (Alqur'an dan Sunnah) dipedomani lahir batin sebagai sumber amaliah/amal shaleh dalam kehidupan nyata sehari2, tidak dikurangi dan tidak dilebihkan. Itulah Ilmu yang HAQ karena Al Islam adalah Ilmu tertinggi tidak ada yang lain yang lebih tinggi dari ilmu tersebut (Al Islam Ya'lu wala Yu'la 'Alaih). Jika kita sebagai mu'min dan murid di jalan Allah mari kita koreksi diri seberapa besar kecintaan kita pada ilmuNya Allah yaitu Al Islam yang Haq? Apakah kita sering berpaling pada yang lain seperti kata pepatah"rumput tetangga lebih hijau"? Ini menjadi sebab longsornya ilmu Al Islam kita dan bercampur baur dengan ilmu-ilmu New Ages yang sekarang menjamur jadi aliran spiritual baru, karena aliran spiritual Islam kita bercampur dg aliran spiritual baru tersebut akibatnya kita sadar maupun tidak sadar mulai kerasukan aliran yang "abu-abu" alias "oplosan". Di dunia nyata kalau kita meminum sesuatu yang murni menyehatkan seperti anggur murni,susu murni,air tebu murni,air nira murni, air putih murni (ini semua ciri-ciri yang haq), namun sebaliknya jika kita meminum yang "oplosan" seperti minuman oplosan apapun bentuknya membuat si peminum langsung sekarat dan lewat menjadi mayat dengan membawa maksiat lahir dan batin (ini ciri-ciri yang batil/tdk haq). Begitu juga halnya di dunia rohani/spiritual ketika kita menggabungkan praktek spiritual kita dengan berbagai aliran spiritual baru tanpa landasan yang haq dr Alqur'an dan Sunnah sama halnya kita mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil (oplosan). Wajar jika kehidupan spiritual kita kolaps dan tak bernyawa "inilah namanya badai kabut asap pekat rohani"tadi.Allah SWT dalam Firmannya:"Dan kalau engkau turutkan kebanyakan manusia di bumi ini,tentulah mereka menyesatkan engkau dari jalan Allah.Mereka hanya menurunkan persangkaan belaka.Dan mereka hanya membuat kebohongan semata-mata"."Sesungguhnya Tuhan engkau lebih mengetahui orang-orang yang tersesat dari jalanNya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang menurut jalan yang benar (haq)"(QS.Al An'Aam,6:116-117).Dari kedua ayat Firman Allah di atas mari kita senantiasa koreksi diri jangan terlalu "ke-PD-an" dengan apa yang kita miliki dari kehidupan spiritual kita karena di atas langit masih ada langit, kecuali bagi yang senantiasa menjadi al mufaarridun (penyendiri di jalan Ilahi) dan para muhibbin (yang mencintai ilmu Allah yang Haq) "tidak tergoda"oleh gebyar ramai dunia yang memenjaran dirinya masuk dalam lembah ego diri yang kabur dan mengaburkan pandangan jernihNya pada Yang Khaliq, sehingga mereka terjerembab masuk dalam lorong habis terang menjadi gelap bukan hijrah minadzulkumati Ilaa Nuur kebanyakan mereka hijrah minadzulkumati ila dzulmah (oplosan) yang merusak aliran air ruhani yang akan masuk dalam samuderaNya maha Luas, kalau sumber dari bukit Thur Sinnya sdh tercemar oplosan pasti aliran airnya jg akan tercemar logam berat oplosan tadi. "Faafiiruu ilallah.."wahai jiwa yang tenang dan kembali kembalilah pada Allah dengan semurni-murninya (taubatan nashuha) mari kita menjadi mu'min dan murid yang taat dan patuh pada ajaran Alqur'an dan SunnahNya lahir maupun batin barokallah...amiin.
"Bersikaplah Baik/Adab untuk menyenangkan Allah". Ungkapan "Adab Ya Hu" bermakna"bersikaplah baik untuk menyenangkan Allah!" dan mengajak orang untuk mengikuti adab spiritual dalam berperilaku sehari-hari. Akhlak spiritual adalah puncak moralitas. Ini adalah salah satu dari tujuan TASAWUF. Adab pertama yang perlu dipelajari dan diamalkan adalah adab terhadap Allah. Ini berkaitan dengan transformasi seseorang yang belum matang (mubtadi-muwasith) menjadi manusia sempurna (muntahi-insan kamil),dengan mengajarinya bagaimana bersikap baik terhadap Penciptanya Allah SWT (Nurullah).Adab kedua,berkaitan dengan Nabi Muhammad SAW (Nuur Muhammad).Allah mengajak orang-orang beriman untuk secara khusus bersikap baik terhadap utusannya (Rasulullah) dalam surat Al Hujurat (Bilik-bilik/kamar-kamar, silahkan lihat dan renungi QS.49:1-18)dan dalam surat-surat lainnya.Prinsip-prinsip akhlak spiritual,ketika pemahaman seseorang berkembang menuju kesempurnaan,meluas dan meliputi sikap kita terhadap guru,orang tua,sesama orang beriman,dan lebih meluas lagi seluruh makhluk. Sufyan Tsauri berkata:"Adab yang bagus menghapuskan kemarahan Allah". Ibn Abbas,semoga Allah meridhoi dia dan ayahnya,berkata:"Prinsip adab yang pertama adalah mematuhi perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya (taqwa) baik di waktu senang maupun susah".Dikatakan pula bahwa:"Ada 3 sifat yang jika dikembangkan akan melindungi seseorang agar tidak terlepas dari rahmat Allah:"1) Berakhlak mulia, 2)Bergaul dengan orang-orang yang berakhlak mulia,3)Tidak menyakiti orang lain". Seorang penyair menggambarkan akhlak mulia sebagai berikut:"Akhlak adalah mahkota dari cahaya Allah".Kenakan mahkota itu,dan engkau akan terlindungi dari segala kesulitan!". Yunus Emre mengekspresikan kebenaran ini dalam sebuah syair :"Aku menggali ilmu dari orang-orang yang berhati baik, dan menemukan bahwa, Dalam kondisi hadirnya akhlak ini, akhlak yang bersumber dari cahaya Allah, semua pekerjaan dapat diterima".Berangkat dari prinsip dasar ini, sebagian Wali Allah mendefinisikan TASAWUF sebagai "AKHLAK" saja. Jadi kalau kita belum mampu menampilkan akhlak yang baik jangan "ngaku-ngaku" bertasawuf. Inilah inti dasar ajaran yang harus
dipahami dan diamalkan oleh para murid di jalan Allah..."bersambung"...
"Sambungan"...Contoh akhlak tinggi amat melimpah dalam kehidupan para Wali Allah.Sepanjang hidup mereka mencontoh Nabi Muhammad SAW.Sebagai contoh, Ibn Ata, dalam kaitannya dengan kepatuhan terhadap aturan-aturan akhlak,berkata:"Barang siapa mencontoh akhlak orang-orang berhati MURNI, tikarnya adalah tikar rahmat. Barang siapa mencontoh akhlak Wali Allah, tikarnya memancarkan kondisi spiritual persahabatan dengan Allah. Barang siapa mencontoh akhlak Rasulullah, tikarnya adalah tikar keintiman dengan Allah. Dan, barang siapa tidak memiliki akhlak baik, dia terhalang dari semua hal baik--->alias "oplosan".Rumi yang agung mengatakan:"Barang siapa tidak memiliki akhlak, DIA BUKAN MANUSIA!.Sebab,perbedaan utama manusia dengan BINATANG terletak pada AKHLAK.Bukalah matamu dan baca Alqur'an dengan lebih cermat.Kau akan menyadari bahwa pada dasarnya ayat-ayatnya berkaitan dengan AKHLAK MANUSIA!"..."bersambung"...
"Rasulullah SAW bersabda:"Barang siapa bertambah ilmunya tanpa bertambah hidayah,maka tidak ada yang bertambah baginya kecuali hanya semakin menjauh dari Allah SWT". Untuk alasan ini Rumi mengatakan bahwa kata-kata yang baik tanpa disertai perbuatan (ilmu iku kelakone kanti laku) adalah ibarat pakaian pinjaman (sewa).Nabi Muhammad SAW bersabda:"Ketika cahaya memasuki sebuah hati, hati tersebut akan meluas"Mereka bertanya:"Apa tandanya?" Beliau menjawab:"berpalinglah dari dunia yang sementara ini; merindukan dunia akhirat yang abadi;bersiap-siap untuk mati sebelum kematian datang (Antal maut koblal maut/mati sejeroning urip dan urip sejeroning mati)"..."bersambung"...
"Mari Muhasabah diri". Beberapa sikap egoistik-kebinatangan sehingga calon murid egonya anggkuh mestinya luluh sehingga ruhani/spiritualnya tumbuh beberapa sifat buruk tadi diantaranya :"merasa sdh punya ilmu" krn ditawajuh sdh lama, malas ke majelis ilmu, mengikuti ilmu "oplosan", malas beramal, iradaj diri lemah,kurang inisiatif dalam berilmu,Tidak punya pendirian berilmu (labil),tidak jujur/banyak bohongi diri sendiri,tidak fokus menjadi calon muridNya,tidak memiliki prinsip hidup abadi,lemah semangat berilmu, tidak mengamalkan ajaran ma'rifatullah dlm kehidupan sehari-hari,mudah tergoda rayuan dunia, dan banyak lagi kalau diurai sbg muhasabah diri ambil yang paling buruk untuk diistighfari sambil melakukan keseimbangan hidup dengan amal perbuatan...semoga menjadi koreksi diri sehingga ego kita luluh dan spiritual kita tumbuh dihadapkan Robbul 'Alamiin Allah SWT.